Langsung ke konten utama
Semua catatan

Jualan di Marketplace dan WhatsApp Sekaligus, Stoknya Dipegang di Mana?

Jualan di beberapa marketplace dan WhatsApp sekaligus sering berujung barang terjual padahal stoknya habis. Kenapa ini mahal, prinsip satu sumber stok, dan tiga tingkat solusinya.

Bagikan

Bagikan ke Instagram Stories

Menyiapkan gambar…

  1. Link sudah disalin.
  2. Unduh gambarnya, lalu unggah ke Instagram Stories dari HP.
  3. Tambahkan stiker Link di Story, lalu tempel link-nya.
Unduh gambar

Instagram Stories cuma bisa dibuat dari aplikasi di HP.

Bagikan ke TikTok

Menyiapkan gambar…

  1. Caption dan link sudah disalin.
  2. Unduh gambarnya, lalu unggah sebagai postingan foto di TikTok.
  3. Tempel caption-nya sebelum posting.
Unduh gambar

Paling gampang diposting dari aplikasi TikTok di HP.

Tiga seluncuran kayu dari arah berbeda menjatuhkan paket-paket kecil ke satu peti kayu yang bercahaya di lantai gudang yang gelap

Produk yang sama dijual di Shopee, Tokopedia atau TikTok Shop, WhatsApp, dan kadang toko fisik. Masing-masing kanal punya angka stok sendiri. Barangnya habis terjual lewat WhatsApp, tapi di marketplace masih tertulis tersedia. Pesanan masuk, penjual nggak bisa memenuhi, lalu terpaksa membatalkan atau meminta pembeli membatalkan.

Kejadian seperti ini disebut overselling, dan biayanya lebih besar dari sekadar satu pesanan yang batal.

Kenapa overselling itu mahal

Di marketplace, pembatalan karena kesalahan penjual dicatat. Contohnya Shopee. Di panduan Sistem Poin Penalti dari Pusat Edukasi Penjual Shopee:

  • Tingkat pesanan tidak terselesaikan adalah persentase pesanan dalam 7 hari terakhir yang dibatalkan atau dikembalikan karena kesalahan penjual.
  • Kalau tingkatnya 10% atau lebih dan ada 30 pesanan tidak terselesaikan atau lebih, penjual mendapat 2 poin penalti.
  • Meminta pembeli membatalkan pesanan lewat chat juga pelanggaran, dengan 2 poin penalti.
  • Penjual dengan poin penalti tinggi bisa kehilangan sementara keuntungan eksklusif.

Ketentuan seperti ini bisa berubah, jadi cek versi terbaru di pusat edukasi penjual masing-masing marketplace. Di luar penalti, ada juga pelanggan yang kecewa, ulasan buruk, dan waktu admin yang habis untuk minta maaf. Untuk pembeli lewat WhatsApp, kerugiannya biasanya berupa kepercayaan yang hilang.

Prinsipnya, satu sumber kebenaran untuk stok

Masalahnya bukan di kanal penjualannya, tapi di angka stok yang disimpan di banyak tempat. Solusinya: satu tabel stok utama. Setiap penjualan dari kanal mana pun mengurangi angka di tabel itu, dan angka stok yang ditampilkan di tiap kanal mengikuti tabel utama, bukan sebaliknya.

Kedengarannya sederhana, tapi ini yang membedakan stok yang terkendali dengan stok yang dikira-kira.

Tiga tingkat solusi

TingkatBentuknyaCocok untuk
1. Sheet utama dan jadwal updateSatu Google Sheets sebagai stok utama. Penjualan WhatsApp dan offline dicatat lewat form. Stok di marketplace diperbarui manual di jam-jam tertentuProduk sedikit, pesanan per hari masih bisa dihitung jari
2. Sheet atau aplikasi dengan bufferSama seperti tingkat 1, ditambah stok yang ditampilkan di marketplace sengaja dibuat sedikit lebih rendah dari stok sebenarnya, dan peringatan otomatis saat stok menipisPesanan mulai banyak, tapi belum siap berlangganan aplikasi
3. Integrasi otomatisAplikasi omnichannel atau sistem sendiri yang terhubung ke marketplace lewat jalur integrasi resmi, sehingga stok tersinkron otomatisBanyak SKU, banyak kanal, pesanan tinggi

Tingkat 1 dan 2 bisa dibangun di atas Google Sheets. Batasnya, dan kapan harus pindah, ada di Kapan Google Sheets Cukup Jadi Database Webapp, dan Kapan Harus Pindah. Untuk tingkat 3, timbang biaya langganan bulanannya dengan membangun sistem sendiri, seperti yang kubahas di Daripada Numpuk Langganan CRM dan POS, Investasi ke Website Sendiri Bisa Lebih Masuk Akal.

Rak gudang gelap berisi kardus polos, satu slot kosong di tengah menyala merah karena kardusnya hilang
Slot kosong yang masih tertulis tersedia di kanal lain, itulah awal overselling.

Kebiasaan yang membuat stok tetap benar

Sistem sebagus apa pun akan meleset kalau kebiasaannya nggak ikut. Ini saranku:

  1. Satu orang atau satu sistem memegang stok utama. Kanal lain hanya membaca.
  2. Catat semua barang keluar, termasuk barang rusak, sampel, dan barang yang dipakai sendiri. Selisih stok sering datang dari yang "cuma sedikit".
  3. Retur masuk dicek dulu sebelum dihitung kembali sebagai stok yang bisa dijual.
  4. Stok opname rutin, misalnya mingguan untuk barang laku dan bulanan untuk sisanya.
  5. Pakai buffer untuk barang yang paling laku, karena barang itulah yang paling sering oversell.
  6. Jangan minta pembeli membatalkan. Kalau terpaksa membatalkan, lakukan sendiri dan perbaiki penyebabnya.

Masalah yang sama dalam skala gudang yang lebih besar, dari kertas dan chat WhatsApp ke sistem yang terintegrasi, ceritanya ada di case study warehouse management system.

Penutup

Jualan di banyak kanal itu bagus untuk penjualan, asal stoknya dipegang di satu tempat. Mulai dari satu tabel stok utama dan kebiasaan mencatat semua barang keluar. Otomatisasi dan integrasi bisa menyusul setelah polanya rapi.

Kalau stok di toko online dan WhatsApp-mu sering nggak sinkron, cerita aja dulu kanal apa saja yang dipakai.

Bermanfaat? Bagikan ke teman atau tim kamu.

Bagikan

Bagikan ke Instagram Stories

Menyiapkan gambar…

  1. Link sudah disalin.
  2. Unduh gambarnya, lalu unggah ke Instagram Stories dari HP.
  3. Tambahkan stiker Link di Story, lalu tempel link-nya.
Unduh gambar

Instagram Stories cuma bisa dibuat dari aplikasi di HP.

Bagikan ke TikTok

Menyiapkan gambar…

  1. Caption dan link sudah disalin.
  2. Unduh gambarnya, lalu unggah sebagai postingan foto di TikTok.
  3. Tempel caption-nya sebelum posting.
Unduh gambar

Paling gampang diposting dari aplikasi TikTok di HP.

Ada proses di tim kamu yang masih manual?

Cerita aja, kita cariin solusinya bareng.